Wednesday, May 16, 2007

Yang Baru dari Linkin Park

Buat eloe pada yang udah lama nungguin album baru Linkin Park, penantian loe kayaknya bakal segera selesai. Setelah 14 bulan ngendon di dapur rekaman, akhirnya album berjudul Minutes of Midnight bakal keluar 14 Mei ini.

Gw beruntung banget bisa dengerin album itu di acara pers junket di Sunset Marquis Hotel & Villas, Los Angeles, AS, 21 Maret. Di jalan, gw coba dengerin album-album mereka yang dulu. Buat perbandingan, bro. Gosipnya, mereka punya sound yang baru. Begitu nyampe hotel, gw disalamin ama Chester Bennington (vokalis) yang nunjukkin listening station buat dengerin album mereka bareng-bareng. Bentuknya sama kayak kamar hotel mewah lainnya, cuma ada tambahan dua belas headphone.

Buat gw, dengerin Minutes of Midnight rasanya kayak naik roller coaster. Temponya cepet banget berubah antara lagu satu dan lagu lain. Loe gak bakalan bisa nebak gimana bentuk sebuah lagu pas loe dengerin pertama kali. Lagu pertama, "Wake", dimulai dengan slow dan dreamy dengan suara drum yang tambah lama tambah kenceng. Intronya, menurut gw, cocok banget ama judulnya. Loe tau kan rasanya waktu kita baru mau akan bangun dari tidur. Sama sekali gak ada vokal selama lagu dan tiba-tiba gw sadar, nih dia nih kenapa dibilang ada new sound dalam album baru mereka.

Ini yang disebut Mike, "It’s almost schizophrenic". Jelas banget kalo mereka nyoba-nyoba make banjo, gitar, mellotron, amps, sampai marimba. Suaranya nggak kayak di album-album mereka sebelumnya dan bukan nu-metal. Tapi, biar gitu, loe tetep ngerasa kalau "ini emang Linkin Park".

Gw paling suka sama lagu keempat. Judulnya "Bleed it Out". Suara tepuk tangan dipadu gitar dan suara Chester yang teriak berkali-kali "Bleed it out, diggin deeper just to throw it away" bikin lagu itu rasanya pas banget buat gw. Lagu berikutnya, "Shadow of the Day", langsung ngebalik tempo dengan iramanya yang lambat dan suara pelan. Si Mike sempet cerita, kalau mereka sempat lebih dari lima puluh kali ganti bunyi dalam lagu ini. Lagu ini bikin loe jadi pengen nyalain lighter atau ngangkat HP loe setinggi mungkin sambil ngegerakkinnya kiri-kanan ngikutin irama lagu pas lagi konser.

Habis itu, ada lagu "What I've Done" yang lumayan slow dan kerasa "mainstream banget". Liriknya yang berbunyi "in this farewell, there is no blod, there is no alibi" bikin gw ngebayangin, mereka lagi ngucapin selamat tinggal ke LP yang lama. Inilah Linkin Park yang sekarang. Kayak kata Mike, album ini emang punya terobosan dalam sound mereka. Pengennya, album ini lebih diterima di mainstream tanpa kerasa boring.

Sempet juga sih terlintas pikiran, "Is it the same band?" It is, but it’s not. Mereka tambah dewasa. Loe bakal tetep denger teriakan Chester atau Mike yang nge-rap. Tapi, teriakan itu udah gak sekeras dulu lagi. Beda seh, tapi kalau menurut gw, jadinya lebih baik. Suaranya beda banget yang bikin gw jadi susah ngecap album mereka ini masuk ke aliran musik mana. They’ve successfully reinvented themselves.

Thursday, May 10, 2007

SUPERMAN IS DEAD: Young, Drunk, and Handsome

Bermarkas di Kuta Rock City. Beranggotakan 3 pemuda asal Bali berusia 20-an, baik hati, bijak bestari, dan tepo seliro yaitu:
»
Bobby Cool (beer drinker, lead vocal, guitar, well-known as "The Bastard Child of Fat Mike" since his voice sounds pretty similar with that NOFX frontman)

» Eka Rock (beer drinker, bass, backing vocal, warm smilin' Rock 'N Roll bandman)
» Jerinx (hairwax junkie, drum, beer drinkin' Rock'N Roll prince charming) Nama tendensius Superman Is Dead (SID) dicomot dari Stone Temple Pilot's "Superman Silvergun". Namun karena dianggap miskin konotasi, zonder rasa bersalah secara sewenang-wenang nama tersebut lalu diganti menjadi "Superman Is Dead" - yang seenak udelnya dimaknai sebagai: tak ada manusia yang sempurna. Pada mula kemunculan, akhir 95, SID pekat teracuni warna Green Day & NOFX. Seiring beringsutnya waktu, inspirasi musikal SID bergeser ke genre Punk 'N Roll a la Supersuckers, Living End & Social Distortion. Imej yang frontal hendak ditonjolkan oleh SID ke publik, self-described as: "Blitzkrieg 3-chordsabilly Beer Punk Rock" (think raw energy of Ramones vs Living End meets Supersuckers + Sid Vicious' nihilism yet supersonicaly fueled with beer-soaked Rockabilly attitude… Ribet, kan? Horeee…) SID sendiri telah menerbitkan 3 indie album (Case 15 - thn 95; Superman Is Dead - thn 99; Bad, Bad, Bad - Maret 2002, berformat mini album - berisikan 6 lagu). Menuju pelebaran skala wilayah pencapaian publik, fajar 2003 SID - bekerjasama dengan Spills Record - merilis ulang "Bad, Bad, Bad" dalam bentuk single (4 lagu). Maret 2003, SID menandatangani kontrak dengan Sony Music Indonesia. Yang oh mengejutkan, Sony Music berbesar hati mempersilakan SID riang gembira terus bernyanyi dalam lirik mayoritas berbahasa Inggris. Tepatnya 70% Inggris, 30% Indonesia. Wow. Sony Music nekat (namun terukur)? Atau beranggapan sudah saatnya menancapkan jejak monumental? Atau semata capek/males/bosen/ngantuk dibombardir ewuh pakewuh etos adiluhung Punk Rock oleh kontingen big badass Balinese beer band bernama SID? Whoa... (Hey, whatever it is, the history of Indonesian Punk Rock has just begun. And miracles are real, mind you) Kilas balik, pra-tragedi bom SID agresif diundang berkiprah di kafe-kafe internasional di seantero Kuta yang mana SID dipersilakan memuntahkan gubahan sendiri (baca: bukan sebagai cover band). Esensial dicatat, untuk skala lokal hal ini belum pernah terjadi sebelumnya di Bali. Di masa silam, legiun band yang beraksi di pub-pub di Kuta hanya diijinkan mengusung ciptaan orang lain an sich. Popularitas SID perlahan kian menjulang ketika satu demi satu tembang SID - yang dominan berlirik Inggris - ultra frekuentif diputar di radio-radio lokal berpengaruh ya di Bali ya (melebar) ke Jawa >dus, percaya atau tidak, lagu-lagu SID malah telah gencar juga diperdengarkan di radio-radio di Australia, Swedia dan jazirah Skandinavia lainnya. Langkah fenomenal SID bisa disebut dimulai pada Agustus 2002 saat menjadi band pembuka Hoobastank di Hard Rock Hotel, Kuta, Bali. Kemudian tengah September '02 SID duhai mencengangkan sukses mengobrak-abrik Senayan di acara Puma Street Games. Berlanjut Desember 02 SID digjaya meluluhlantakkan PL Fair. Berikutnya diwawancara oleh MTV Sky, M97 FM, Prambors, dsb, serta masif diekspos oleh hampir seluruh majalah remaja populer nasional. Di Hai edisi tahunan 2002-2003 - bersama Rocket Rockers - SID dimunculkan sebagai The Next Big Thing. Pun oleh MTV Trax SID dinobatkan sebagai band potensial 2003. Epos Punk Rock paling mutakhir, SID telah merampungkan proses rekaman bersama Sony Music dengan judul album "Kuta Rock City" dan hingga minggu ke-3, um, telah terjual puluhan ribu kopi. *Disusul dengan "The Hangover Decade" akhir 2004, dan yang paling terakhir adalah "Black Market Love" pada akhir Mei 2006*.. Juni 2003 *| Dikisahkan secara bersemangat dan penuh gairah narcissism oleh Rudolf Dethu (Serta-terima kasih Tuhan-sama sekali nihil pengaruh alkohol)